Ketua BPW PISPI Aceh: Bangga Jadi Petani

Diterbitkan, 2020-03-06 14:08:28 WIB
Pertanian hampir sama tuanya dengan peradaban manusia, hal tersebut ditandai ketika Anak Nabi Adam as Habil dan Qabil memberikan Qurban kepada Allah Yang Maha Kuasa berupa binatang ternak dan buah-buahan. Diketahui bahwa binatang ternak dan buah-buahan termasuk kategori pertanian dalam arti luas.

Dalam perjalanannya, pertanian purba yang ditandai dengan pola ekstraktif atau mengambil apa yang ada di alam, lama kelamaan berubah pola menjadi budidaya. Secara perlahan manusia dulu mulai menanam dan membudidayakan berbagai tanaman yang mulanya secara tidak sengaja. Biji-bijian hasil makanan yang dimakan, dibuang begitu saja didekat tenda atau pemukiman mereka yang kemudian tumbuh subur. Hal ini kemudian dirawat secara perlahan oleh manusia nenek moyang kita dahulu.


Dengan pesatnya kemajuan dan bertambahnya penduduk, maka pada abad XV mulailah Bangsa Eropa menjelajah ke seluruh dunia, termasuk Indonesia (pada waktu itu masih bersifat kerajaan di nusantara dan setelah dijajah Belanda diberi nama Hindia Belanda). Perjalanan Bangsa Eropa tersebut seperti Portugis, Belanda, Spanyol, Inggris dan lainnya hanya semata mencari tanah hijau atau tanah surga yang mereka juluki.

Ternyata tanah hijau atau tanah surga itu adalah areal pertanian yang terdiri dari tanaman pangan dan perkebunan, terutama rempah-rempah seperti pala, lada, cengkeh (Palace), dan lainnya.

Komoditi tersebut telah menjadi perburuan beberapa Bangsa Eropa, bahkan ada yang berperang memperebutkan komoditi dan ingin menguasai perdagangan internasional pada Abad XV-XIX. Sebagai bukti nyata dan mungkin belum banyak diketahui oleh banyak orang adalah seperti apa yang tertulis dalam Buku "Pulau RUN" karya Giles Milton cetakan pertama Juni 2015.

Pada buku tersebut dikisahkan bahwa Pulau Run (di wilayah Maluku sekarang) adalah sebuah pulau kecil yang terpencil, dan terabaikan di tengah ribuah pulau-pulau di nusantara. Namun, siapa sangka ternyata pulau itu pernah ditukar dengan Manhattan, sebuah pulau yang terletak di sebelah Selatan ujung Sungai Hudson, salah satu dari lima kota bagian yang membentuk Kota New York Amerika Serikat.

Pada awal Abad XVII, panen rempah-rempah mengubah Pulau Run menjadi pulau yang paling berharga dari kepulauan rempah-rempah lainnya di nusantara. Hal ini mendorong perebutan sengit dan berdarah-darah antara Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan sekelompok tentara Inggris yang dipimpin oleh seorang kapten pemberani, Nathaniel Courthope.

Hasil dari perebutan tersebut adalah satu penawaran paling spektakuler dalam sejarah: Inggris menyerahkan Pulau Run kepada Belanda dan sebagai imbalannya Inggris diberi sebuah pulau lain yaitu Manhattan di Benua Amerika.

Peristiwa bersejarah tersebut, pada episode berikutnya telah banyak mengubah peradaban manusia menjadi lebih serakah terhadap yang namanya pertanian khususnya perkebunan. Komoditi seperti Palace telah mengalahkan terhadap perburuan emas dan perak di dunia pada masa itu. Perperangan demi peperangan terus berlangsung sehingga sampai kepada proses penjajahan, termasuk Indonesia yang dijajah cukup lama oleh Belanda sampai 350 tahun.

Pada sisi lain, dengan pesatnya ilmu pengetahuan, maka pada tahun 1784 ditemukannya mesin uap dan dikenal dengan era 1.0 (satu titik nol). Dengan ditemukannya mesin uap, Bangsa Eropa makin bernafsu untuk melakukan perburuan dan penjajahan di Benua Asia, Amerika, Afrika, dan Australia. Karena fasilitas untuk itu semakin mudah. Kemudian sekitar tahun 1876 ditemukannya lampu pijar oleh Thomas Alfa Edison dan dikenal dengan era 2.0 (dua titik nol).

Kemudian pada tahun 1969 indutri terus malangkah maju dengan pemanfaatan komputer dan berbagai industri lainnya yang dikenal dengan era 3.0 (tiga titik nol), dan saat ini pada Abad XXI dikenal dengan era 4.0 (empat titik nol) yang dikenal dengan era digitalisasi.

Era yang kita alami sekarang adalah Revolusi Industri 4.0 merupakan fenomena yang mengolaborasikan teknologi cyber dan teknologi otomatisasi. Konsep penerapannya berpusat pada otomatisasi yang dilakukan oleh teknologi tanpa memerlukan tenaga kerja manusia dalam proses pengaplikasiannya.


Disadari bahwa dunia pertanian memiliki penyerapan tenaga kerja yang sangat besar. Hal ini dikarenakan bahwa Indonesia termasuk negara agraris dan hampir seluruh provinsi di Indonesia memiliki lahan pertanian yang sangat luas. Dengan kemajuan teknologi saat ini, maka menuntut dunia pertanian juga harus mengikuti perkembangan zaman dengan era 4.0.

Dunia pertanian tidak bisa lagi bergantung dengan hal-hal yang berbau konvensional. Dunia pertanian harus berubah termasuk dari kebijakan, program, kegiatan, dan cara pikir dan cara tindak. Dan hal ini direspon cepat oleh Menteri Pertanian Syarul Yasin Limpo dengan berbagai kebijakan dan program yang mengedepankan kecanggihan teknologi, salah satunya adalah dengan Kostratani (Komando Startegis Pembanguna Pertanian).

Menteri menjadikan BPP (Balai Penyuluh Pertanian) di tingkat kecamatan sebagai simpul koordinasi menjadi lebih baik dalam pembangunan pertanian di daerah. Kostratani merupakan program utama Kementerian Pertanian untuk membuat single data dan pusat pembangunan Pertanian. Tak hanya itu, di sisi lain Kostratani juga berfungsi sebagai monitoring perkembangan pertanian di seluruh kecamatan di Indonesia.

"Lewat Kostratani, saya bisa tahu apa yang terjadi tentang perkembangan pertanian di sebuah kecamatan, seperti lahan yang sedang diolah, potensi pertanian atau intensitas penggunaan alat mesin pertanian (Alsintan). Sederhannya Kostratani merupakan program pembanguna pertanian berbasis teknologi informasi dalam rangka meningkatkan produksi, produktivitas, dan pendapatan yang bermuara pada kesejahteraan petani," kata Mentan (Kompas.com).

Saat ini Kementan sedang membangun Agricultural War Room dan Agricultural Operation Room sebagai pusat data dan informasi yang bisa diterima secara real time. Melalui program ini petani juga dapat dilatih seputar pertanian melalui video conference. Hal itu sudah dibuktikan ketika Kenduri Kebangsaan baru-baru ini di Bireuen pada 22 Pebruari 2020. Dari BPP Juang Bireuen, Mentan melakukan video conference kepada para petani dan petugas BPP di seluruh Indonesia. Sentuhan teknologi informasi sudah menjadi keharusan saat ini di sektor pertanian.

Dengan kondisi demikian, sudah seharusnya para stakeholder terutama petani sendiri untuk bangga dan menjadikan petani sebagai profesi yang sangat mulia. Tanpa petani maka tidak ada pangan dan makanan. Tanpa petani, tidak ada asupan gizi bagi manusia di atas bumi ini. Untuk itu, mari kita dukung dan mengembangkan serta meneruskan berbagai program pemerintah khususnya di sektor pertanian.

Bagi generasi muda, tidak perlu ragu apalagi malu terjun ke sektor pertanian. Mari menjadi petani milenial yang menguasai teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Bonus demografi yang ada saat ini bisa dimanfaatkan untuk ikut berkontribusi positif dan sangat signifikan menurunkan angka kemiskinan, khususnya di Aceh dan Indonesia pada umumnya. Sebab terbesar kemiskinan itu ada di petani, nelayan, dan pekerjaan informal lainnya, Wallahualam.






Sumber Artikel:
Klik Disini

Komentar

© Hak Cipta Terpelihara PISPI