PISPI MENYELENGGARAKAN TALKS SHOW PERTANIAN INDONESIA 20 TAHUN PASCA REFORMASI

Publish, 2018-06-08 20:22:38 WIB
Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia menggelar kegiatan Talk Show dalam Rangka Peringatan 20 Tahun Indonesia Pasca Reformasi dengan tema “Telaah Kritis Pembangunan Kebijakan Pertanian dan Nasib Petani di Era Reformasi” di gedung Tempo.

Diskusi diawali dengan Opening Speech yang disampaikan Ketua Dewan Pengawas PISPI Salman Dianda Anwar. Menurutnya, Catatan pertanian saat ini masih berkutat seputar impor, SDM Pertanian (usia yang terlibat sektor pertanian di Indonesia cenderung didominasi dengan usia tua, mari bersama kita giatkan para pemuda) dengan upaya memberikan prototype dan bantuan dari startup. imbuhnya.

Budi Setyarso selaku Pimpinan Redaksi Tempo juga menambahkan mengapa pertanian kurang menarik, kiranya pertanian terlalu maskulin, unsur estetikanya kurang, mungkin itu juga sebabnya pertanian menjadi kurang menarik. Adapula masalah alih fungsi lahan pertanian di Indonesia kian memperihatinkan, ini tidak mencerminkan pertanda baik dalam reformasi pertanian.

Prof Ahmad Suryana yang mewakili Mentri Pertanian RI menyatakan bahwa Persoalan pertanian dari sejak Reformasi sampai sekarang kiranya kita dapat melihat lewat dua sisi, yaitu sisi permintaan atau tingkat kebutuhan masyarakat terhadap pangan (permintaan pangan masyarakat desa, urban dan kota) kedua persaingan lahan, atau alih fungsi lahan. Selanjutnya Perlu pertumbuhan pangan berkelanjutan dengan bantuan teknologi dan inovasi, Beberapa upaya yang dilakukan diantaranya memfokuskan upaya produksi pangan secara kualitas dan kuantitas, memulai dengan Gerakan Mandiri Produksi Padi dan Jagung (GEMAPALAGUNG),” .

Sementara Dir. Operasional & Pelayanan Publik Bulog Karyawan Gunarso yang dalam diskusi banyak disinggung masalah impor “Terkait dengan impor, kami ingin menyampaikan bahwa Bulog hanya selaku operator yang tidak begitu saja melakukan regulasi, Bulog juga melakukan kajian sebelum melakukan importasi seperti memperhatikan stok Bulog misalnya. Dengan pertimbangan seperti itu kemudian pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk melakukan impor, namun hanya dalam kadar untuk simpanan. Bulog selaku operator tidak memiliki hak untuk melakukan penolakan."

Dr Bapak Rachmat Pambudy, perwakilan praktisi agribisnis menyampaikan Pada era reformasi dulu, yang sangat menyakitkan bukan krisis moneter, namun krisis pangan, harga pangan khususnya beras melambung tinggi, hingga diupayakan gerakan Gemapalagung. Perbedaan dan perubahan mendasar sebelum dan sesudah reformasi dan bagaimana nasib petani, lanjutnya lagi bahwa “Dulu semua sentralisasi, namun setelah era reformasi, keluar otonomi daerah, daerah memiliki wewenang. Kemudian, dulu semua serba bergantung pada pemerintah, namun sekarang rakyat berkemauan, baru pemerintah bergerak. Selanjutnya perdagangan dan pertanian bersifat lebih leluasa, namun ternyata pada paraktiknya belum seperti itu.

Achmad Tjahja Nugraha sebagai Wakil Ketua Umum PISPI memberikan sudut pandang sebagai akademisi yang menambahkan Fakta yang terjadi, antusias generasi muda dalam menggeluti bidang pertanian sangat memprihatinkan, tidak hanya di universitas negeri, bahkan universitas swasta pun sampai gulung tikar. Dapat kita renungi, tidak ada proteksi pendidikan dalam bidang pertanian, misalnya budgeting, bidang petanian tidak memiliki budget yang relevan, mungkin karena anggapan berdasakan urgensinya. Kemudian, kebanyakan mahasiswa pertanian berasal dari pedesaan, hal ini sangat berpengaruh terhadap kelangsungan mahasiswa pertanian selama pendidikan. Terakhir, perguruan tinggi berjalan dengan sendiri, maksudnya, ketika ada kegiatan mahasiswa dituntut untuk melakukan penggalangan dana sendiri. Hal hal ini harusnya juga diperhatikan, bagaimana kenyataan lapangan keberlangsungan mahasiswa pendidikan tutupnya.”
sumber

Komentar

Category

Popular Article

Iklan Baris

© Hak Cipta Terpelihara PISPI