[OPINI] Kelapa Sawit vs. Orang Utan: Tipu Daya Amerika dan Uni Eropa

Diterbitkan, 2019-09-28 21:59:42 WIB
Makassar - Pernah mendengar kampanye anti “deforestasi” akibat pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit oleh Amerika Serikat, Uni Eropa dan beberapa NGO? Jika pernah, berarti anda telah terpapar kampanye dagang yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa terhadap minyak kelapa sawit Indonesia beserta turunannya yang gencar mereka lakukan melalui berbagai media seperti TV, koran, facebook, twitter, instagram, youtube dan gerakan cinta lingkungan beberapa NGO dan lembaga sosial lainnya.

Mereka menuding, laju deforestasi yang tinggi akibat pembukaan hutan di Indonesia menyebabkan hilangnya habitat orangutan di Kalimantan dan Sumatra sehingga hal ini mengancam keberlangsungan orangutang dimasa depan. Mereka gencar mengkampanyekan gerakan sayang dan lindungi orangutan. Gerakan ini ada benarnya, tapi yang kurang tepat karena yang mereka target adalah penolakan atas CPO (crude palm oil) atau minyak kelapa sawit Indonesia dan turunannya.

Gerakan ini merupakan upaya untuk mengontrol industri kelapa sawit Indonesia, tekanan lain dari industri kelapa sawit kita adalah soal isu pemanasan global (efek rumah kaca), banjir akibat penggundulan hutan, tingginya kebutuhan air yang dibutuhkan untuk perkebunan sawit (komoditi boros air), isu makanan yang mengandung minyak sawit tidak sehat dan beberapa isu lainnya yang segaja dihembuskan oleh pihak Amerika Serikat dan Uni Eropa untuk terus memojokkan industri kelapa sawit kita.

Apakah kampanye ini murni untuk melindungi orangutan dan lingkungan? Ooh tidak, Luas lahan jagung, kedelai, kanola, gandum, bunga matahari dan lahan pertanian/perkebunan mereka jauh lebih luas dibanding perkebunan kelapa sawit kita. Dan ingat, sebelumnya merekapun telah melakuan penebangan hutan yang sangat luas, mereka juga melakukan deforestasi!.

Gerakan ini sengaja mereka lakukan untuk melindungi minyak substitusi kelapa sawit seperti minyak jagung, kanola, kedelai dan minyak biji bunga matahari mereka. Saat ini penggunaan minyak sawit sangat tinggi dan menguasai penggunaan minyak nabati di Amerika Serikat dan Uni Eropa dan jika ini terus berlangsung tentu tidak menguntungkan bagi petani dan perekonomian mereka dimasa yang akan datang.

Ini adalah salah contoh model perang dagang dalam persaingan produk diera digital 4.0 yang sedang berlangsung, dalam buku #MO karya Rhenald Kasali, "ketika masyarakat eropa membagikan cerita tentang orangutan", disana bukan gerakan sayang orangutan dan lingkungan murni, didalamnya ada kepentingan politik ekonomi. Buku ini mengupas dengan tajam pendekatan “sharing-shaping” yang digunakan oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa untuk menghalau pasar minyak sawit Indonesia di era digital 4.0.

Banyak kalangan kita ikut terjebak terhadap permainan perang dagang minyak kelapa sawit VS minyak jagung, kanola, kedelai dan minyak biji bunga matahari ini. Tidak sedikit masyarakat Indonesia ikut anti kelapa sawit karena terpapar dengan kampanye emosional orangutan dan isu-isu lingkungan lainnya yang dimainkan oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Pertanian dan ketersediaan pangan telah menjadi perhatian negara-negara diberbagai belahan bumi. Selain energi, pangan menjadi hal yang sangat penting saat ini dan dimasa yang akan datang. Siapa yang menguasai pangan, dialah menguasai dunia. (*)

Artikel ini ditulis oleh:
Bahtiar Manadjeng
(Sekertaris Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) BPW Sulawesi Selatan)
Sumber Artikel:
Klik Disini

Komentar

© Hak Cipta Terpelihara PISPI